BARRU, KOMPAS. com – Obyek wisata Air Terjun Waesae, Desa Liburang, Kecamatan Tanete Riajang, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, ramai dikunjungi jelang hari raya Idul Adha. Obyek wisata ini, termasuk obyek wisata yang baru di Sulawesi Selatan, yang patut anda datangi.
Untuk mecapai air terjun yang berjarak sekitar 150 kilometer dari Kota Makassar, kita harus berjalan sekitar 1 kilometer, di area persawahan warga. Hamparan sawah yang menghijau memanjakan mata kita, hingga tak tersa mencapai Air Terjun Waesae nan memesona.
"Sungguh memesona, air terjunnya tinggi, pemandangan alam sekitar tak kalah menariknya, ditunjang dengan warga Kabupaten Barru yang ramah," kata Nur Nahdiyah, wisatawan asal Polman yang datang bersama suaminya menikmati bulan madu, Minggu (13/9/2015), di lokasi Air Terjun Waesae.
Nah untuk para fotografer yang ingin mengunjungi salah satu spot yang indah ini, sebaiknya menyiapkan batere yang cukup serta memori kamera berkapasitas besar. "Benar-benar spot yang luar biasa, air terjun yang indah, dipercantik dengan pelangi yang kerap muncul di bawah air terjun," ungkap Abdillah, seorang fotografer asal Parepare.
Jika anda tak punya referensi untuk berwisata di akhir pekan, tidak ada salahnya mencoba spot baru yang ada di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan ini.
Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan
Senin, 14 September 2015
Inilah Tradisi Hombo Batu atau Lompat Batu di Nias
KOMPAS.com - Mungkin anda tidak lupa dengan gambar lompat batu yang ada di tata uang rupiah, karena tradisi ini sudah lama dan semakin tersapu jaman diabadikan di mata uang negara kita.
Kalau orang mendengar kata Nias, pasti akan terbersit akan budaya lompat batunya. Ya memang tradisi 'Hombo Batu' ini sangat unik dan memiliki nilai budaya yang tinggi.
Pada zaman dahulu desa-desa di Kepulauan Nias, Sumatera Utara banyak melakukan peperangan, karena mereka sering berperang antar desa satu dengan lainnya. Banyak desa yang memasang pagar batu yang tinggi sebagai pertahanan desa mereka.
Inilah yang menyebabkan prajurit-prajurit Nias yang boleh pergi berperang diharuskan berlatih untuk lompat batu yang umumnya tinggi di atas 2 meter.
BARRY KUSUMATradisi Hombo Batu atau lompat batu di Kepulauan Nias, Sumatera Utara.
Bagi para pemuda Nias yang akan ikut perang persyaratan mereka harus bisa melompati tembok batu setinggi 2 meter ini agar memudahkan untuk menyerang desa musuh dan bisa langsung melompatinya.
Desa-desa adat di Nias rata-rata mempunyai menara batu yang digunakan untuk sarana latihan lompat ini, karena dahulu ini digunakan untuk pelatihan militer prajurit dan pemuda Nias.
Selain itu tradisi lompat batu saat ini dilakukan oleh seorang pemuda Nias untuk menunjukan bahwa dirinya sudah pantas dianggap dewasa dan matang secara fisik. Dengan melakukan tradisi ini, mereka akan diakui sebagai lelaki pemberani, telah memenuhi syarat untuk menikah.
BARRY KUSUMATradisi Hombo Batu atau lompat batu di Kepulauan Nias, Sumatera Utara.
Karena saat ini perang adat sudah tidak pernah lagi terjadi, Hombo Batu ini sekarang diteruskan sebagai budaya saja. Namun tradisi ini tetap dilestarikan sampai sekarang terutama sebagai salah satu bentuk ritual upacara dan simbol budaya masyarakat Nias.
Kalau orang mendengar kata Nias, pasti akan terbersit akan budaya lompat batunya. Ya memang tradisi 'Hombo Batu' ini sangat unik dan memiliki nilai budaya yang tinggi.
Pada zaman dahulu desa-desa di Kepulauan Nias, Sumatera Utara banyak melakukan peperangan, karena mereka sering berperang antar desa satu dengan lainnya. Banyak desa yang memasang pagar batu yang tinggi sebagai pertahanan desa mereka.
Inilah yang menyebabkan prajurit-prajurit Nias yang boleh pergi berperang diharuskan berlatih untuk lompat batu yang umumnya tinggi di atas 2 meter.
Desa-desa adat di Nias rata-rata mempunyai menara batu yang digunakan untuk sarana latihan lompat ini, karena dahulu ini digunakan untuk pelatihan militer prajurit dan pemuda Nias.
Selain itu tradisi lompat batu saat ini dilakukan oleh seorang pemuda Nias untuk menunjukan bahwa dirinya sudah pantas dianggap dewasa dan matang secara fisik. Dengan melakukan tradisi ini, mereka akan diakui sebagai lelaki pemberani, telah memenuhi syarat untuk menikah.
Langganan:
Postingan (Atom)